Bocah 10 Tahun Ini Berjalan 8 KM Menuju Sekolah Dengan Sepatu Bolong, Air Mata Tak

HPK taruh disini

Terbendung Lagi Ketika Tahu Cerita Hidupnya
Pemerataan kesejahteraan memang belum dirasakan seluruh masyarakat Indonesia khususnya mereka yang tinggal di pelosok negeri ini. Seperti yang dirasakan oleh Zohri Handayani, bocah perempuan berusia 10 tahun di Lombok Timur yang hidup miskin tanpa kedua orangtua. Zohri tinggal di rumah jauh dari kata layak bersama sang nenek yang merawatnya sejak kecil.
Walau ia hidup serba kekurangan, ia bertekad kuat untuk keluar dari kondisi ini suatu saat nanti. “Saya tidak mau berhenti sekolah, tetap ingin terus sekolah. Karena saya ingin menjadi pintar dan membanggakan nenek,” ucap Zohri penuh harap. Sejak usia 6 bulan, Zohri sudah hidup di bawah pengasuhan nenek.

Saat itu kedua orangtuanya memutuskan berpisah. Kini sang ibu memilih menikah lagi sedangkan sang ayah telah berpulang ke pangkuan Ilahi. Hanya Nenek Salemah yang menjadi pengganti sosok keduanya. Wanita yang selama ini berjuang tak kenal lelah demi mencukupi kebutuhan Zohri. Berjalan 8 KM tak membuat Zohri menyerah dari bangku sekolah walau ia harus berjibaku dengan kondisi jalanan yang tak ramah.

Zohri paham bahwa hanya dengan mengenyam pendidikan sajalah, suatu saat nanti ia akan hidup lebih layak lagi bersama nenek yang selama ini telah merawatnya. “Masa depan kalau seperti ini terus saya akan malu. Ingin berubah, tapi caranya bagaimana, mungkin nanti kalau saya sudah besar baru bisa memikirkan caranya,” ucap Zohri.
“Saya memang merasa saya miskin dan berbeda dari teman-teman saya. Makanya saya tetap berusaha. Kalau musim tanam jagung, saya juga bekerja menjadi buruh tanam jagung supaya bisa memiliki uang tetapi tetap saja uangnya belum cukup.” Di masa panen seperti inilah, Nenek Salemah dan Zohri memanfaatkan buah randu yang berjatuhan untuk dijual kepada pengepul.

Zohri juga mengambil jagung dengan kualitas yang kurang baik untuk mereka olah kembali sehingga dapat ditukar kembali dengan uang. Impian Zohri untuk saat ini hanyalah dapat mempunyai rumah yang layak huni bersama neneknya. “Yang saya harapkan saat ini adalah ingin memiliki rumah, supaya saya dan nenek dapat tidur dengan nyaman.” Mungkin semua itu masih jauh dari kenyataan bahkan untuk keperluan makan saja Zohri dan sang nenek masih kesulitan.

Bukan tanpa alasan juga mengapa Nenek Salemah bertahan hidup di hutan milik pemerintah ini. Tidak ada lagi tempat yang dapat tinggali, dulu rumahnya terbakar dan tidak ada yang tersisa. Nenek Salemah membangun tenda untuk berteduh sedangkan ada yang memberi mereka pakaian. Ketika hari berganti malam, mereka hanya dapat mengandalkan penerangan dari panel kecil yang didapat dari mencicil.

Tikar tipis dan bantal lusuh menjadi alas mereka tidur walau udara malam yang dingin menusuk ke dalam tulang. Namun bagi Zohri dan Nenek Salemah kemiskinan dan segala keterbatasan hidup adalah sebuah lahan ujian agar kelak mereka dapat meniti liku hidup dengan penuh kekuatan. “Rasanya setiap hari tidur di atas tikar, saya merasa saya sangat miskin sekali sampai-sampai beli tikar saja tidak mampu. Hanya bisa nangis terkadang kalau malam hari, karena hanya dapat tidur diatas tikar yang sobek.”

Baca Sumber
close